Tiga Hal Yang Harus Anda Ketahui Untuk Pencegahan Virus Corona, SIlahkan Kunjungan Laman Resmi di https://www.covid19.go.id

Terbelenggunya Kreativitas Anak Dalam Menumbuhkan Potensi Dirinya

Terbelenggunya Kreativitas Anak Dalam Menumbuhkan Potensi Dirinya

Artikel : sebuah refleksi pengalaman

 

Jutaan orang melihat Apel jatuh,

namun hanya Newton satu-satunya orang yang bertanya, Mengapa


Writer : Roni Umbu Muda

 

Apabila setiap anak memiliki potensi kecerdasan, tugas kita adalah bagaimana benih itu bisa tumbuh dan berkembang seoptimal mungkin. Potensi dasar sebenarnya sudah tampak dalam kecenderungan-kecenderungan yang dimiliki setiap anak : imajinasi, ingin tahu, dan kreativitas.

Hampir setiap anak memiliki daya imajinasi yang kuat, dan secara alamiah ada dorongan ingin tahu atas gejala-gejala disekitarnya. Potensi kreativitas juga sudah tampak dari keinginannya untuk menciptakan hal-hal baru sesuai dengan daya imajinasinya. Sayangnya, justru karena campur tangan orang dewasa dengan mengatasnamakan pendidikan, potensi ini pudar dan layu sebelum berkembang. Banyak penelitian baik di luar maupun dalam negeri terhadap anak-anak yang memiliki kreativitas menonjol ternyata pengaruh terbesarnya dari lingkungan keluarga, bukan dari sekolah.

Mengacu pada teori Abraham Maslow tentang kebutuhan manusia, yang tertinggi adalah aktualisasi diri dan estetika, pada taraf ini manusia akan menemukan makna hidupnya yang terdalam. Kreativitas merupakan potensi yang akan menjadi pelontar seseorang untuk menggapai kebutuhan tertinggi tersebut. Sejak dini potensi kreativitas ini sudah ada, dengan kata lain sejatinya Sang Kehidupan sudah membekali piranti untuk meraih kebahagiaan tertinggi. Sekali lagi, seribu kali sayang justru piranti tersebut seringkali tidak diasah, bahkan dibenamkan dalam lumpur  sampai berkarat. Ibarat anak elang yang diasuh induk itik, potensi terbangnya tak pernah diasah justru sehari-hari dipaksa untuk belajar berenang. Hasilnya, terbangpun tidak sanggup, berenangpun tidak becus. Oleh karena itu, sudah saatnya kita berani menghentikan segala bentuk pemangkasan dan pemandulan potensi anak-anak kita atas nama apa pun termasuk pendidikan jika kita mengharapkan nantinya anak-anak kita akan menjadi manusia-manusia yang mampu memberi makna atas hidupnya sendiri  dengan penuh tanggungjawab. Pendidikan yang kita lakukan entah formal atau nonfromal selalu bernuansa sebagai tindakan pembebasan (liberation) bukan penjinakan (domestication). Artinya, praktik pendidikan yang kita tujukan kepada anak-anak,  benar-benar mampu membebaskan mereka dari keterbatasan-keterbatasan baik yang ditimbulkan oleh faktor internal-bawaan dalam dirinya sendiri maupun eksternal yang ditimbulkan oleh kondisi sosial-kultural lingkungan sekitarnya.

 Penting kita katakan bahwa setiap anak adalah Seniman dan setiap anak adalah Ilmuwan, mari memandang dan memahami uraian berikut ...

Setiap Anak Seniman

Ketika kita berjumpa dengan seniman, kesan dan chiri khasnya adalah kualitas kreativitasnya (daya cipta). Seorang seniman tidak dilahirkan begitu saja, melainkan melalui proses panjang. Daya cipta pun melalui pencarian jati diri sampai akhirnya memancarkan originalitas karya-karyanya. Meniru atau imitasi merupakan langkah awal sebuah proses kreatif. Pelukis-pelukis besar pun pada awalnya memiliki patron sebagai acuan untuk diikuti sampai akhirnya menemukan gayanya sendiri. Demikian juga pemusik, sastrawan, dan seniman lainnya.

Setiap anak suka meniru hal-hal yang ada di sekitarnya. Ketika mendengar lagu di tivi. Ia pun meniru. Melihat penari atau penyanyi bergoyang, ia pun meniru. Melihat gambar, ia pun meniru. Bahkan perilaku orang dewasa di sekitarnya pun ditiru. Melihat mamanya bergincu, diam-diam si kecilpun berlepotan lipstik. Ada pendapat yang mempertentangkan tindakan meniru dengan kreativitas, sehingga melarang atau meremehkan ketika anak-anak suka meniru. Padahal meniru adalah tindakan kreatif yang paling sederhana, dan bisa dilakukan setiap anak. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang menghargai musik, sehingga di rumah nuansa musikalnya kental akan melahirkan juga anak-anak yang menyukai musik, bahkan menjadi musikus. Meniru tidak harus berupa tindakan konkret, secara mental anak-anak merekam sekitarnya dalam alam bawah sadarnya. Setelah mengalami masa inkubasi, suatu saat potensi kreativitas itu menemukan saat yang tepat untuk mekar. Sesungguhnya setiap anak dilahirkan sebagai seniman. Setidaknya dibekali potensi kesenimanan. Untuk itu, ciptakan lingkungan rumah dan sekolah dengan nuansa seni, gantunglah karya-karya seni kendati hanya reproduksi. Hiasi dengan alat-alat musik, atau setidaknya putarlah lagu-lagu yang memiliki bobot seni. Barang-barang bernuansa seni akan memantulkan getaran halus yang beresonansi dengan potensi anak secara naluriah. Ajaklah anak-anak mengunjungi galeri, pentas seni, atau konser agar potensi kesenimanan mereka terpupuk. Tujuan utamanya bukan untuk mencetak seniman, melainkan menghaluskan rasa estetikanya, sehingga sikap dan perilakunya pun terpengaruh. Banyak orang sukses secara material atau intelektual dan status sosial, namun tidak memiliki apresiasi dan cita rasa seni. Seni selalu menyentuh kemanusiaan (humanitas), manusai yang memiliki cita rasa seni biasanya juga memiliki sense of humanity yang tinggi. Banyak anak dewasa ini hanyut dalam gaya hidup konsumtif dengan mengekor mode, keluar-masuk mall, atau diam di kamar bermain games. Mereka kehilangan touch of art, padahal Tuhan sudah memberinya cuma-cuma. Hidupnya pun menjadi miskin kendati bergelimang materi, Narkoba, seks bebas, kehidupan malam, menunjukkan betapa kosong melompong hati mereka, dan mencoba memenuhinya dengan jalan pintas. Mode pakaian yang lebih memamerkan bagian-bagian tubuh yang sensitif dan private ingin mengungkapkan secara jujur bahwa hati mereka merindukan keintiman dan kehangatan, jiwa seni mereka haus dan mendamba. Jangan heran jika adakalanya anak berandalan berpenampilan sama dengan seniman yang nyentrik.

Tangis bayi selalu berirama merupakan nyanyian yang dilantunkan secara alamiah. Dalam pengamatan saya terhadap anak-anak sekolah dasar, jika ada anak yang sulit diajak bernyanyi biasanya memiliki masalah psikologis, seperti rendah diri, depresi dan sulit terbuka. Secara spontan anak-anak suka bernyanyi dan mampu bernyanyi. Sekolah-sekolah juga kurang melatih anak-anak bernyanyi, karena lebih suka menghabiskan waktunya untuk latihan soal. Di rumah pun, orangtua kurang mengajar anak-anak bernyanyi, karena disibukkan dengan pekerjaan rumah dan urusan lain. Ciptakan kesempatan dan suasana untuk bernyanyi dan bernyanyi... di kamar tamu dengan karaoke, di kamar mandi, di mobil dan di kebun, di mana saja... nyanyian adalah bahasa jiwa anak-anak yang periang, terbuka dan tidak cepat putus asa. Mereka akan menjadi manusia-manusia yang prigel menyiasati kekerasan hidup ini menjadi perjalanan yang menyenangkan. Ajarilah mereka juga untuk mengekpresikan perasaan yang sedang berlangsung melalui nyanyian. Perkenalkan lagu-lagu yang menggambarkan kegembiraan, harapan, kerinduan, kesedihan, ketakutan bahkan kemarahan.

Berikan kepada anak selembar kertas dan alat warna, ia akan terbang mengarungi samudera imajinasi yang kaya raya. Menurut hemat penulis, sebaiknya meminta anak-anak untuk menggambar sebagai media ekspresi. Misalnya, ketika pelajaran Pkn dengan pokok bahasan “Kesetiaan', daripada menjelaskan sampai mulut berbusa tentang petuah-petuah mengenai kesetiaan. Lebih gampang menyuruh anak-anak untuk mengungkapkan apa pemahaman mereka tentang pokok bahasan tersebut melalui bahasa gambar. Setelah itu, mereka diminta bercerita tentang makna gambarannya. Luar biasa, kita akan melihat betapa kaya dan kreaatifnya mereka. Ada yang menggambar Ayah dan Ibu bergandengan lalu menceritakan bahwa kesetiaan itu bila ayah dan ibunya rukun dan damai. Ada yang menggambar seorang anak mencium ibunya, dan lain-lain. Biarlah anak-anak mengumbar imajinasinya melalui gambar sebebas-bebasnya, jangan memberi penilaian 'ndah dan tidak' berdasar kacamata orang dewasa. Kreativitas membutuhkan kebebasan psikologis, artinya mereka berkarya semata-mata menuruti aliran jiwa bukan untuk dinilai, untuk lomba, atau tujuan-tujuan terprogram.

Bentuk-bentuk seni yang lain seperti tari, drama dan puisi sangat positif untuk diperkenalkan kepada anak. Kalau kita amati gerakan tari yang meliputi seluruh anggota badan secara harmoni sangat membantu keseimbangan otak kanan dan kiri, berbeda sekali dengan aktivitas sehari-hari  kebanyakan olahraga yang hanya mengandalkan organ kanan atau organ tertentu, misalnya sepak bola dengan kaki, Volley dan badminton dengan tangan. Sayang sekali, pendidikan seni belum mendapatkan tempat yang optimal di kurikulum Sekolah Dasar. Bahakan pelajaran seni diajarkan secara teori, pelajaran sastra sekedar menghafal nama buku dan pengarang serta tahunnya, tanpa berlatih apresiasi. Membaca karya sastra sejak dini mesti diperkenalkan kepada anak, mulai cerita-cerita klasik seperti Cinderella, Andi-Andi Lumut, dan lain-lain. Orangtua atau guru mendongeng sudah jarang dilakukan karena digantikan dengan televisi dan VCD player. Tayangan media pada umumnya justru memenjarakan jiwa bebas anak-anak, karena dibatasi Shoot demi Shoot, mereka tak ada kesempatan berimajinasi karena terpaku pada gambar yang terus berubah dalam sekian per detik. Benar-benar konsumtif-pasif. Sebaliknya, dengan membaca, anak-anak bebas mengembara sesuai dengan imajinasinya. Misalnya, tertulis “suatu sore yang indah di tepi pantai....”, anak-anak dengan bebas menggambarkan pantai dan sore macam apa, sedangkan televisi hanya memberi satu pilihan sesuai selera fotografer dan sutradaranya. Setiap anak dilahirkan dengan potensi seni, ketika kita memperkenalkan seni kepada anak-anak seperti menceburkan ikan dalam air tawar. Ada kebebasan jiwa di sana. Hanya jiwa-jiwa yang bebas yang mampu terbang menyongsong masa depan gemilang. Menjauhkan atau melarang anak-anak bersentuhan dengan seni ibarat mematahkan sayap-sayap jiwanya.

 Setiap Anak Ilmuwan

Ada perbedaan paling mencolok antara mengajar di perguruan tinggi dan taman kanak-kanak yang kini berumah pendidikan anak usia dini. Setiap kali Dosen mengajukan pertanyaan kepada Mahasiswa Baru, “Ada pertanyaan”, hampir tak bersambut. Seorang Dosen pernah mengadakan ujian dengan soal, “Buatlah 10 pertanyaan dari Bab …”, Ternyata soal itu yang mereka rasakan paling sulit, yakni membuat pertanyaan, bukan menjawab seperti lazimnya ujian, sebaliknya di tengah anak-anak, jangankan bertanya seperti itu, di tengah pembelajaran pun mereka saling bersahutan menanyakan segala hal: seperti pakaian yang dipakai gurunya, sampai pada pertanyaan mengapa Tuhan bikin hujan! Jika sekelas ada 20 orang anak, berarti minimal guru harus menjawab 30 pertanyaan. Setiap anak selalu ingin bertanya sebagai ungkapan rasa keingintahuannya (curiousity). Pertanyaannya: mengapa dorongan untuk bertanya ini semakin jenjang pendidikannya menanjak semakin pudar dan lenyap? Pada hal logikanya, semakin dewasa dan banyak hal yang dipelajari semakin banyak bahan untuk ditanyakan. Entahlah. Apakah bernasib sama dengan potensi kreativitas yang justru terpangkas melalui proses pendidikan. Barangkali masih perlu diteliti, namun yang jelas jika metode pembelajaran di sekolah sangat bersifat linear, hafalan, seragam dan monolog, tak heran jika rasa ingin tahu  pun akhirnya padam, bahkan dicurigai sebagai hal yang mengganggu ketertiban dan stabilitas.

Kenyataan anak-anak TK yang belum tersentuh pendidikan (mereka masih bermain) justru sarat dengan berbagai pertanyaan membuktikan bahwa pada dasarnya anak-anak itu berpikir seperti ilmuwan: ingin tahu, bertanya, eksplorasi, membuat konklusi. Oleh karena itu, agar potensi keilmuwanan ini tumbuh subur perlu dilakukan koreksi terhadap pola didik dan asuh yang menjejalkan informasi, nasihat, dan aturan dengan kebebasan bertanya, serta membimbing untuk menemukan jawabnya sendiri. Ambil contoh, anak-anak kelas 1 SD mengamati pertumbuhan tanaman. Setiap anak mendapat satu bekas gelas minuman mineral yang didalamnya berisi kapas basah dan sebutir biji kacang hijau. Menarik sekali, setiap pagi masuk kelas, anak-anak ini mengamati gelasnya masing-masing dengan saksama mengamati perkembangan yang terjadi. Ketika mulai terjadi pertumbuhan dari biji berubah menjadi kecambah, mereka semakin semangat untuk bertanya. Demikian setiap hari, mereka mengamati perubahan demi perubahan tentu saja dengan serentetan pertanyaan. Bertanya adalah langkah awal menuju proses ilmiah yang akan mengantar pada penemuan-penemuan baru. Bahwa matahari terbit dari Timur sudah tidak perlu dipertanyakan selama ribuan tahun, namun seorang ilmuwan bertanya mengapa sampai akhirnya kebenaran pun dijungkirbalikkan karena yang berputar ternyata bumi bukan matahari! Sama dengan seorang ilmuwan yang selalu menanyakan hal-hal yang sudah lumrah, anak-anak pun sering merepotkan dan menjengkelkan orang dewasa karena menanyakan hal-hal sepele. Barangkali selama ini anda tidak peduli, atau bahkan marah terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anak anda, menuduhnya sebagai cerewet dan bodoh. Jangan-jangan sikap kita yang meremehkan pertanyaan-pertanyaan anak menghalangi lahirnya Einstein atau Edison baru? Atau, mendorong lahirnya beo-beo penghafal, generasi yesman, atau robot-robot yang menunggu distel atau diprogram.

Berbeda dengan orang dewasa yang bertanya dengan motivasi tertentu, sekadar ingin menguji atau sekadar basa-basi, anak-anak yang sedang bertanya didorong oleh semata-mata hasrat ingin tahu. Tabu atau tidak sopan adalah dunia orang dewasa, anak-anak tidak mengenalnya. Apa pun yang bagi mereka belum tahu, ingin diketahuinya. Sama seperti ilmuwan yang mendapat kepuasan psikologis dan intelektual ketika memahami sesuatu, anak-anak pun memiliki potensi serupa. Oleh sebab itu jawablah setiap pertanyaan tanpa prasangka, atau ajaklah anak-anak menemukan jawabnya sendiri. Pertanyaan, “mengapa ibu bisa hamil?, atau “adik lahir lewat mana?”, samasekali tidak bertendensi pornografi, jawablah dengan lugas dalam bahasa anak yang masuk akal . Terus terang saja, menjadi orangtua di jaman sekarang memang tidak gampang. Bukan hanya karena anak-anak sekarang lebih kritis dan terbuka, sumber infromasi yang menganga sepanjang waktu bisa diakses anak-anak kapan pun entah sengaja atau tidak membuat banyak pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dicarikan jawaban secara tepat. Perlahan-lahan pertanyaan harus mendorong anak untuk mencari jawaban entah melalui pengamatan, pengumpulan data, mencari sumber informasi, bahkan berdiskusi dan berdebat. Oleh karena itu sediakan ensiklopedia, buku-buku, gambar-gambar, kamus, sehingga anak-anak mulai belajar mencari jawabnya sendiri.

Anak-anak berhak untuk berbeda pendapat, bahkan sekalip pun pendapatnya keliru harus dihargai. Orang dewasa bukan pemegang monopoli pendapat dan kebenaran. Anak-anak dengan sudut pandang dan cara berpikirnya sendiri berhak memiliki pendapat sendiri. Ada pengalaman menarik di Kelas 2 SD, ketika guru sehabis menerangkan tentang tema  Tolong-Menolong, mengajukan pertanyaan: “siapa yang suka menolong orang tua di rumah?” semua anak mengacungkan jari sambil berteriak serentak, “sayaaa!” kecuali satu anak yang tak bergeming, sebut saja John. Lalu, si guru bertanya, kenapa John tidak suka membantu orang tua?, jawabnya, “saya mau membantu, tapi dilarang ibu, karena sudah ada pembantu, John kan masih kecil”. Syukurlah, si guru tidak menyalahkan, bahkan mengubah pertanyaan, “siapa yang bisa merapihkan buku sendiri, setelah belajar?, menghargai pendapat anak akan mendorong sikap kritis dan berani menunjukkan identitas dirinya. Meluruskan pendapat atau jawaban anak tidak harus dengan menyalahkan, melainkan mengajak anak menggunakan akal sehatnya dan memberi argumen dan bukti yang rasional.

Berani bertanya dan berpendapat akan memupuk potensi keilmuwan dan membangun rasa percaya diri. Orang tua pun perlu merangsang dan mengajarkan keterampilan bertanya dengan senantiasa mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Dalam menghadapi pertanyaan atau persoalan, ajarkan kepada anak untuk menghindari kata-kata TIDAK TAHU, TIDAK MAU, dan TIDAK BISA. Tiga serangkai kata ini paling sering saya jumpai sebagai jawaban ketika anak sulit mendapat jawabnya atas pertanyaan atau persoalan, tulislah di kelas atau di kamar anak slogan besar-besar, “SAYA PANTANG MENGGUNAKAN KATA “TIDAK TAHU, TIDAK MAU, dan TIDAK BISA”, seperti Thomas Alva Edison, ia berhasil menemukan lampu pijar, setelah 200 kali percobaannya gagal. Watak seorang ilmuwan sejati adalah kegigihan dan ketekunannya untuk menemukan jawaban, berbeda sekali dengan budaya instan akibat pola konsumtif dan hedonis yang setiap detik ditawarkan oleh pola hidup modern. Matinya budaya juang dan kegigihan justru berawal dari kemanjaan yang diciptakan oleh orang tua sendiri. Saya menyaksikan banyak orang tua yang karena kesibukannya dan didorong untuk mencukupi kebutuhan anaknya (agar terbebas dari rasa bersalah atau merasa sah telah mengabaikan anaknya), mereka melimpahi anak-anaknya bukan hanya dengan materi melainkan “bantuan total”. Setiap anak dijaga dan diasuh oleh seorang pembantu (apapun namanya: suster, babysitter, mbak atau mbok) dari mulai memandikan, menyuapi, menemani sekolah, bermain, belajar, bahkan tidur. Pada umumnya mereka ini berpendidikan rendah dengan sangat terbatas wawasannya tentang pendidikan anak, mereka cenderung  “melayani secara total”, jangan heran kalau anak sekolah dasar

belum bisa (atau tidak mau) mengancingkan baju, apalagi menggunakan toilet secara mandiri. Sesungguhnya dengan cara demikian berarti orang tua justru memperlakukan anak-anaknya seperti anak sakit atau cacat yang harus dibantu dalam segala hal. Akibatnya, anak-anak yang semestinya normal justru menjadi “sakit dan cacat” sungguhan, terutama terhadap sikap kemandirian dan kegigihannya. Matinya sikap kemandirian biasanya disertai dengan hilangnya rasa tanggung jawab.

Secara ringkas potensi keilmuwan itu  bersumber dari rasa ingin tahu yang mendorong untuk bertanya dan berpendapat, lalu anak-anak mesti dibimbing untuk belajar menemukan jawabnya sendiri, untuk itu diperlukan ketekunan, kemandirian, serta tanggung jawab. Oleh karena itu :

  • Jawablah setiap pertanyaan anak tanpa prasangka
  • Ajukan pula pertanyaan kepada anak sebanyak mungkin
  • Biarkan anak memiliki pendapat sendiri
  • Ajak anak berdiskusi
  • Perkenalkan dengan berbagai sumber informasi
  • Latihkan kepada anak untuk mengurus dirinya sendiri
  • Beri tanggung jawab sesuai dengan usianya...

 

semoga tulisan ini menginspirasi setiap orang tua

dalam

mendidik dan mengasuh anaknya dengan hati

Statistik Pengunjung

1.png0.png7.png5.png2.png
Today32
Yesterday49
This week32
This month1269
Total10752

Who Is Online

1
Online