Indonesia adalah Negara yang besar karena memiliki sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) berlimpah. Sumber daya tersebut merupakan potensi besar yang dapat menghantarkan Indonesia ke posisi sebagai negara maju di dunia. Namun, sampai saat ini, Indonesia masih masuk dalam kategori negara berkembang yang terus berupaya membebaskan diri dari sejumlah masalah, terutama masalah peningkatan kualitas SDM. Masalah kualitas SDM tersebut berpotensi menghambat kemajuan Indonesia. Sebagai Negara yang besar, Indonesia harus dapat mengembangkan budaya literasi. Budaya literasi merupakan kecakapan hidup yang diperlukan di abad ke-21 yang harus dimiliki generasi penerus bangsa. Hal tersebut harus dimulai dari lingkungan terkecil seperti keluarga, kemudian sekolah, sampai dengan lingkungan masyarakat. Abad ke-21 membutuhkan anak-anak yang mampu berfikir kritis, kreatif, komunikatif, dan mampu berkolaborasi. Abad ini menuntut orang tua untuk mendampingi anak-anaknya mampu menguasai kecakapan beragam literasi (multiliterasi).

Budaya literasi harus dimulai dan diperluas karena hasil survey beberapa lembaga menunjukkan angka yang memprihatinkan untuk tingkat minat baca masyarakat Indonesia. Tidak hanya memiliki tingkat minat baca yang rendah namun juga berada di posisi yang rendah jika dibandingkan dengan Negara Asia lainnya. Data UNESCO tahun 2012, indeks minat baca masyarakat Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, dari 1.000 penduduk hanya satu warga yang tertarik untuk membaca. Data UNESCO untuk indeks pembangunan pendidikan, Indonesia berada di nomor 69 dari 127 negara. Secara nasional, tidak sampai satu judul buku yang dibaca seseorang dalam setahun. Hasil survei UNESCO, daerah di Indonesia yang minat bacanya paling tinggi adalah Daerah Istimewa Yogyakarta dengan indeks baca 0,049. Di Singapura, indeks baca masyarakatnya sudah mencapai 0,45. Selain itu, adapun hasil survey PISA pada tahun 2015 menunjukkan bahwa kompetensi membaca pelajar Indonesia meraih nilai 397. Angka ini jauh di bawah  rata-rata Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) sebagai organisasi penginisiasi PISA, sebesar 493. Hasil survei penilaian siswa pada PISA 2015 ini menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan ke 64 dari 72 negara.

Data yang menggembirakan adalah capaian pemberantasan buta aksara di Indonesia. Dengan berbagai program pemberantasan buta aksara yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), angka buta aksara ini mengalami penurunan yang sangat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kemendikbud melakukan pemberantasan buta aksara dengan sistem blok atau klaster, yaitu memusatkan program di daerah-daerah padat buta aksara seperti Papua (22.88%), Sulawesi Selatan (4,63%), Sulawesi Barat (4,64%), Nusa Tenggara Barat (7,51%), Nusa Tenggara Timur (5,24%), dan Kalimantan Barat (4,21%).

Pada awal kemerdekaan tahun 1945 jumlah penduduk buta aksara mencapai 97 persen. Namun pada tahun 2015, jumlah penduduk buta aksara telah berkurang menjadi 3,4 persen atau sebanyak 5,6 juta orang. Pada tahun 2017, jumlah penduduk buta aksara tercatat 3,4 juta orang.  Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional BPS tahun 2018, jumlah penduduk buta aksara turun menjadi 3,29 juta orang, atau hanya 1,93 persen dari total populasi penduduk. Oleh karena keberhasilan ini, sejak akhir 2018 pemerintah Indonesia dipilih sebagai Komite Pengarah Aliansi Global Literasi (Global Alliance for Literacy) UNESCO atas keberhasilan Indonesia memberantas buta aksara.

Hal yang menjadi perenungan kita bersama adalah, tingkat buta aksara sudah mengalami penurunan namun hasil survey PISA menunjukkan nilai yang rendah untuk kemampuan membaca. Oleh karena itu, budaya literasi perlu digencarkan, digalakkan, diperluas gaungnya di seluruh Indonesia. Tidak hanya dalam hal literasi baca-tulis namun juga literasi dasar lainnya yaitu literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan. Oleh karena itu, budaya literasi sudah sepatutnya menjadi perhatian kita bersama untuk kemajuan bangsa dan Negara kita. Pengembangan dan penguatan karakter serta kegiatan literasi menjadi salah satu unsur penting dalam kemajuan negara dalam menjalani kehidupan di era globalisasi.

Berdasarkan World Economic Forum pada tahun 2015, ada enam literasi dasar yang disepakati. Penguasaan enam literasi dasar tersebut menjadi sangat penting tidak hanya bagi peserta didik, tetapi juga bagi orang tua dan seluruh warga masyarakat. Enam literasi dasar tersebut antara lain literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan. Penguasaan enam literasi dasar yang disepakati tersebut menjadi sangat penting tidak hanya bagi peserta didik, tetapi juga bagi orang tua dan seluruh warga masyarakat.

Pintu masuk untuk mengembangkan budaya literasi bangsa adalah melalui penyediaan bahan bacaan dan peningkatan minat baca anak. Sebagai bagian penting dari penumbuhan budi pekerti, minat baca anak perlu dipupuk sejak usia dini mulai dari lingkungan keluarga. Minat baca yang tinggi, didukung dengan ketersediaan bahan bacaan yang bermutu dan terjangkau, akan mendorong pembiasaan membaca dan menulis, baik di sekolah maupun di masyarakat. Dengan kemampuan membaca ini pula literasi dasar berikutnya (numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan) dapat ditumbuhkembangkan.

Literasi abad ini mesti dipahami secara utuh dan mencakup berbagai aspek kehidupan. UNESCO secara pragmatis mengartikan “literasi” sebagai kemampuan menggunakan kecakapan membaca, menulis dan berhitung sesuai konteks, yang diperoleh dan dikembangkan melalui proses pembelajaran dan penerapan di sekolah, keluarga, masyarakat dan situasi lainnya yang relevan untuk remaja dan orang dewasa.

Sejak  tahun 2016 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggiatkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) sebagai bagian dari implementasi dari Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Layaknya suatu gerakan, pelaku GLN tidak didominasi oleh jajaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tetapi digiatkan pula oleh para pemangku kepentingan, seperti pegiat literasi, akademisi, organisasi profesi, dunia usaha, dan kementerian/lembaga lain. Pelibatan ekosistem pendidikan sejak penyusunan konsep, kebijakan, penyediaan materi pendukung, sampai pada kampanye literasi sangat penting agar kebijakan yang dilaksanakan sesuai dengan harapan dan kebutuhan masyarakat. GLN diharapkan menjadi pendukung keluarga, sekolah, dan masyarakat mulai dari perkotaan sampai ke wilayah terjauh untuk berperan aktif dalam menumbuhkan budaya literasi.

Gerakan Literasi Nasional merupakan upaya untuk memperkuat sinergi antarunit utama pelaku gerakan literasi dengan menghimpun semua potensi dan memperluas keterlibatan publik dalam menumbuhkembangkan dan membudayakan literasi di Indonesia. Gerakan ini dilaksanakan secara menyeluruh dan serentak, mulai dari ranah keluarga sampai ke sekolah dan masyarakat di seluruh wilayah Indonesia. Meningkatkan literasi bangsa perlu dibingkai dalam sebuah gerakan nasional yang terintegrasi, tidak parsial, sendiri-sendiri, atau ditentukan oleh kelompok tertentu. Gerakan literasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab semua pemangku kepentingan termasuk dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi sosial, pegiat literasi, orang tua, dan masyarakat. Oleh karena itu, pelibatan publik dalam setiap kegiatan literasi menjadi sangat penting untuk memastikan dampak positif dari gerakan peningkatan daya saing bangsa.

Kemendikbud menyelenggarakan berbagai program Gerakan Literasi Nasional (GLN) melalui program Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Indonesia Masyarakat, dan gerekan Literasi Keluarga, serta kegiatan turunan dari ketiga program tersebut. Gerakan ini merupakan upaya untuk menyinergikan semua potensi serta memperluas keterlibatan publik dalam menumbuhkan, mengembangkan, dan membudayakan literasi di Indonesia. GLN dilaksanakan secara masif, baik dalam ranah keluarga, sekolah, maupun masyarakat di seluruh Indonesia.

Gerakan Literasi Nasional (GLN) bertujuan untuk menumbuhkembangkan budaya literasi pada ekosistem pendidikan mulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam rangka pembelajaran sepanjang hayat sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup. Dalam pelaksanaannya, GLN pada ranah keluarga dilaksanakan dalam bentuk penyediaan bahan bacaan keluarga, penguatan pemahaman tentang pentingnya literasi bagi keluarga, dan pelaksanaan kegiatan literasi bersama keluarga. Semua anggota keluarga bisa saling memberikan tauladan dalam melakukan literasi di dalam keluarga dengan berbagai macam variasi kegiatan. Gerakan Literasi Keluarga bertitik tolak pada keinginan untuk meningkatkan kemampuan literasi anggota keluarga. Oleh karena itu, pemahaman literasi sebagai kemampuan untuk mengidentifikasi kebutuhan informasi, mencari, memperoleh, mengolah, dan menginformasikan kembali informasi perlu ditingkatkan di ranah keluarga. Untuk meningkatkan kemampuan literasi tersebut, peran keluarga sangat penting. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat, dalam konteks pendidikan, menjadi lingkungan pembelajaran pertama dan utama bagi anak-anak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa literasi keluarga adalah rangkaian kegiatankegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan dalam keluarga untuk meningkatkan kemampuan literasi seluruh anggota keluarga.

GLN juga dilakukan pada ranah sekolah. Pada ranah sekolah, gerakan ini dilaksanakan dengan mengintegrasikannya dengan kegiatan kurikuler, kokurikuler dan ektrakurikuler. Pelaksanaannya dapat dilakukan di dalam kelas atau di luar kelas yang didukung oleh orang tua dan masyarakat. Literasi Sekolah merupakan literasi yang aktivitasnya banyak dilakukan di sekolah dengan melibatkan siswa, pendidik, dan tenaga kependidikan, serta orang tua. Gerakan ini dilakukan dengan menampilkan praktik baik tentang literasi dan menjadikannya sebagai kebiasaan serta budaya di lingkungan sekolah. Literasi juga dapat diintegrasikan dalam kegiatan belajar-mengajar di sekolah sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dari semua rangkaian kegiatan siswa dan pendidik, baik di dalam maupun di luar kelas. Pendidik dan tenaga kependidikan tentu memiliki kewajiban moral sebagai teladan dalam hal berliterasi. Agar lebih masif, program ini melibatkan partisipasi publik, seperti pegiat literasi, orang tua, tokoh masyarakat, dan profesional. Dalam pelaksanaannya, gerakan ini memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut, yaitu berjalan sesuai tahap perkembangan yang dapat diprediksi, bersifat berimbang, terintegrasi dengan kurikulum, kegiatan membaca dan menulis dilakukan di mana pun, mengembangkan budaya lisan, dan mengembangkan kesadaran pada keberagaman.

Pada ranah masrayakat, GLN ini dilaksanakan dalam bentuk penyediaan bahan bacaan yang beragam di ruang publik, penguatan fasilitator literasi masyarakat, perluasan akses terhadap sumber belajar, dan perluasan pelibatan publik dalam berbagai bentuk kegiatan literasi. Dalam setiap ranah baik keluarga, sekolah maupun masyarakat, literasi yang dilakukan mencakup literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, serta literasi budaya dan kewargaan. Literasi pada ranah masyarakat merupakan gerakan berupa kegiatan-kegiatan literasi yang dilakukan untuk masyarakat tanpa memandang usia. Sebagai poros pendidikan sepanjang hayat bagi masyarakat, program-program gerakan literasi di masyarakat bertujuan untuk menjaga agar kegiatan membangun pengetahuan dan belajar bersama di masyarakat terus berdenyut dan berkelanjutan. Melalui literasi masyarakat yang sejalan dengan literasi sekolah dan literasi keluarga diharapkan dapat lahir dan tumbuh simpul-simpul masyarakat yang mempunyai kemampuan literasi tingkat tinggi.

Literasi diartikan UNESCO sebagai keaksaraan, yaitu rangkaian kemampuan menggunakan kecakapan membaca, menulis, dan berhitung yang diperoleh dan dikembangkan melalui proses pembelajaran dan penerapan di sekolah, keluarga, masyarakat. Namun kini makna dan cakupan literasi menjadi lebih luas yaitu literasi sebagai suatu rangkaian kecakapan membaca, menulis, berbicara, kecakapan berhitung, serta kecakapan dalam mengakses dan menggunakan informas. Selain itu, literasi juga sebagai praktik sosial yang penerapannya dipengaruhi oleh konteks, sebagai proses pembelajaran dengan kegiatan membaca dan menulis sebagai medium untuk merenungkan, menyelidik, menanyakan, dan mengkritisi ilmu dan gagasan yang dipelajari, serta sebagai teks yang bervariasi menurut subjek, genre, dan tingkat kompleksitas bahasa.

Gerakan Literasi Masyarakat, sudah lama dikembangkan Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Ditjen PAUD Dikmas), sebagai tindak lanjut dari program pemberantasan buta aksara yang mendapatkan penghargaan UNESCO pada tahun 2012 (angka melek aksara sebesar 96,51%). Sejak tahun 2015 Ditjen PAUD Dikmas juga menggerakkan literasi keluarga dalam rangka pemberdayaan keluarga meningkatkan minat baca anak. Salah satunya melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Ditjen PAUD dan Dikmas, menyelenggarakan program Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku atau disingkat GERNAS BAKU.

GERNAS BAKU ditujukan untuk anak usia dini dalam rangka mendukung pengembangan kemampuan literasi anak melalui peran orang tua. GERNAS BAKU merupakan gerakan untuk mendukung inisiatif dan peran keluarga dalam meningkatkan minat baca anak melalui pembiasaan di rumah, di Satuan PAUD, dan di masyarakat. Melalui GERNAS BAKU diharapkan dapat terwujud pembiasaan baik di lingkungan keluarga yang akan mendorong tumbuhnya minat baca anak sejak dini. Selain itu, kebiasaan ini dapat mempererat hubungan emosional antara anak dengan orang tuanya. Sasaran GERNAS BAKU adalah orang tua, warga sekolah dan masyarakat. GERNAS BAKU dapat dilakukan di berbagai tempat seperti satuan PAUD, rumah dan komunitas.

Anak usia dini merupakan peniru ulung. Mereka akan meniru apa yang dilihat, dirasakan dan didengar dari lingkungannya. Ini dikarenakan mereka belum mengetahui batasan benar atau salah, baik atau buruk serta pantas atau tidak pantas. Karena itu, masa usia dini anak adalah masa yang tepat bagi orangtua untuk memberikan pendidikan yang membantu mengembangkan perilaku positif anak. Salah satu kegiatan yang dapat membantu mengembangkan perilaku positif tersebut adalah dengan membacakan buku bagi anak. Keahlian bercerita merupakan salah satu kemampuan yang harus dikuasai orangtua, bahkan tidak hanya sebatas dikuasai namun perlu diaplikasikan secara nyata. Melalui cerita, orangtua dapat menanamkan nilai-nilai moral, dan nilai-nilai karakter. Sehingga anak nantinya akan tumbuh dan berkembang dengan kepribadian dan akhlak yang terpuji. Cerita pada umumnya lebih berkesan daripada memberikan nasihat. Cerita terekam jauh lebih kuat dalam memori manusia. Cerita-cerita yang didengar di masa kecil masih bisa diingat secara utuh selama berpuluh-puluh tahun kemudian. Jadi, efek dari cerita inilah yang harus diperhatikan oleh orangtua sebagai metode untuk mendidik karakter anak.

Upaya literasi lainnya yang sementara dilaksanakan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan Keaksaraan dan Kesetaraan (Dit. Bindiktara), Ditjen PAUD Dikmas Kemendikbud, adalah mengembangkan model pembelajaran non-formal yang komprehensif, dengan menyelenggarakan program Kampung Literasi. Kampung Literasi diharapkan bisa menjadi poros pendidikan non-formal masyarakat yang tidak hanya mengajarkan membaca, menulis dan berhitung (calistung), namun bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah rendahnya pengetahuan dan minat baca masyarakat. Kampung Literasi dikembangkan agar masyarakat, memiliki 6 kecakapan literasi dasar. Adapun penyelenggaraan Kampung Literasi dapat dilakukan oleh TBM/satuan pendidikan nonformal, lembaga/organisasi maupun perkumpulan yang terdapat dalam masyarakat yang memiliki jiwa mengabdi dan membangun masyarakat di sekitarnya.

Hasil yang ingin dicapai dalam penyelenggaraan program Kampung Literasi adalah:

  1. Tersedianya layanan pengetahuan dan informasi pada jalur pendidikan nonformal berupa buku maupun non-buku yang tersedia di TBM, pojok baca, atau sejenisnya, yang dilengkapi dengan teknologi informasi.
  2. Masyarakat memiliki pengetahuan, keterampilan dan pengembangan sikap yang positif sehingga memiliki kualitas hidup yang baik.
  3. Tersedianya layanan informasi dan sumber akses informasi kepada masyarakat yang berkaitan dengan 6 komponen literasi, yaitu literasi baca tulis, literasi berhitung, literasi sains, literasi Digital, literasi keuangan serta literasi budaya dan kewarganegaraan.

Berikut ini alur dalam perencanaan dan pelaksanaan program Kampung Literasi :

Sumber : Panduan Penyelenggaraan Kampung Literasi

Adapun dimensi literasi yang mencakup 6 literasi dasar yang dilakukan baik dalam gerakan literasi keluarga, sekolah maupun masyarakat adalah sebagai berikut:

  1. Literasi Baca dan Tulis

       Literasi baca dan tulis adalah pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah, dan memahami informasi untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan teks tertulis untuk mencapai tujuan, mengembangkan pemahaman dan potensi, serta untuk berpartisipasi di lingkungan sosial.

  1. Literasi Numerasi

       Literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk bisa memperoleh, menginterpretasikan, menggunakan, dan mengomunikasikan berbagai macam angka dan simbol matematika untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari serta bisa menganalisis informasi yang ditampilkan dalam berbagai bentuk (grafik, tabel, bagan, dsb.) untuk mengambil keputusan.

  1. Literasi Sains

       Literasi sains adalah pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, serta mengambil simpulan berdasar fakta, memahami karakteristik sains, kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan alam, intelektual dan budaya, serta kemauan untuk terlibat dan peduli dalam isu-isu yang terkait sains.

  1. Literasi Digital

       Literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Literasi Finansial

       Literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan, dan motivasi serta pemahaman agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial, dan dapat berpartisipasi dalam lingkungan masyarakat.

  1. Literasi Budaya dan Kewargaan

       Literasi budaya adalah pengetahuan dan kecakapan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sementara itu, literasi kewargaan adalah pengetahuan dan kecakapan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga masyarakat.

Penguatan keenam literasi di atas bertujuan untuk mendukung pemerintah dalam meningkatkan minat baca dan angka literasi masyarakat Indonesia. Melalui GLN ini diharapkan minat baca peserta didik dan masyarakat sebagai ekosistem pendidikan meningkat sehingga angka literasi Indonesia juga meningkat. Oleh karena itu, demi mendorong tumbuh kembangkan Gerakan Literasi, maka dibutuhkan fasilitator literasi sebagai ujung tombak gerakan literasi. Fasilitator ini membantu dan mendorong masyarakat untuk menumbuhkembangkan budaya literasi. Pada ranah keluarga, fasilitator literasi terdiri atas orang tua dan atau anggota keluarga. Pada ranah sekolah, fasilitator literasi terdiri atas kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, pengawas, serta komite sekolah. Pada ranah masyarakat, fasilitator literasi terdiri atas pegiat literasi dan pengelola perpustakaan publik atau taman baca. Peran fasilitator literasi sangat penting, oleh karena itu peningkatan kapasitas fasilitator adalah hal yang juga penting untuk diperhatikan.

Selain fasilitator sebagai ujung tombak kesuksesan gerakan literasi, kesuksesan gerakan literasi membutuhkan partisipasi aktif semua pihak. Pelaksanaan gerakan literasi di semua satuan pendidikan melibatkan semua pemangku kepentingan yang meliputi pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. Sedangkan pada lingkup eksternal Kemendikbud, pihak-pihak yang dapat terlibat adalah perguruan tinggi, Perpusnas, Ikapi, lembaga donor, dan lain-lain. Gerakan Literasi Nasioanal juga memerlukan keterlibatan unsur masyarakat, seperti lembaga masyarakat di bidang pendidikan, perpustakaan masyarakat, taman bacaan masyarakat, dan para tokoh masyarakat. Selain itu, dunia industri pun dapat dilibatkan dalam gerakan ini melalui pengimplementasian Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility). Kesuksesan Gerakan Literasi Nasional dapat dicapai apabila setiap pemangku kepentingan memiliki kapasitas yang memadai untuk melaksanakan program literasi sesuai dengan perannya masing-masing.

Keberadaan Gerakan Literasi Nasional (GLN) dapat menjadi fondasi awal Indonesia untuk meningkatkan minat baca masyarakat jika dikelola dan dilaksanakan dengan baik. Dengan meningkatnya minat baca masyarakat, kecerdasan bangsa Indonesia lambat laun juga akan terbangun. Dalam jangka panjang berbagai kemajuan di Indonesia akan semakin menuju titik terang dan bahkan dapat bersaing dengan negara-negara maju saat ini. Usaha pemerintah melalui GLN merupakan bentuk keseriusan untuk memberantas buta aksara, meningkatkan minat baca, dan menumbuhkan budaya literasi masyarakat. Oleh karena itu, dukungan semua pihak sangat diperlukan. Keberhasilan GLN ditentukan tidak saja oleh baik tidaknya program dan strategi pengembangannya, tetapi juga oleh keterlibatan semua unsur masyarakat dalam mendukung program GLN. Tanpa dukungan semua pihak, upaya yang dilakukan oleh Kemendikbud ini tidak akan mencapai hasil yang dicita-citakan.

Oleh: Agriani Stevany Kadiwanu, S.Sos

Statistik Pengunjung

4.png2.png2.png0.png3.png
Today132
Yesterday311
This week1404
This month6497
Total42203

Who Is Online

2
Online