Usianya yang muda belia adalah pintu. Idelaismenya adalah gembok dan kepenuhan dirinya adalah kunci penyingkap tabir masa depan itu.

 

Tapi ketika anak-anak kita sebagai kaum muda tak lagi mengenal diri, ketika tak lagi tahu jalan menuju sebuah pintu, ketika itu juga sebuah krisis tengah terjadi. Boleh jadi mereka lahir hanya sebagai proyek orang tua atau mungkin foto copy generasi terdahulu.

Krisis kepercayaan diri tengah melanda anak-anak kita generasi penerus bangsa. Krisis kepercayaan itu terjadi ketika dalam pelbagai bidang kehidupan mereka tidak lagi merasa iklim penerimaan, perhatian, penghargaan dan pengakuan. Maka persolan paling pokok dan segera kita jawab kalau kita hendak membangun generasi penerus yang berkualitas adalah : nilai apa yang dapat kita investasikan kepada anak-anak usia dini agar dalam diri mereka benar-benar menjadi harapan bangsa, tulang punggung Negara dan mata rantai antar generasi ? Jawabanya adalah mari sejak awal lewat Pendidikan anak Usia Dini (PAUD) kita sentuh nuraninya, kita bombing kepribadianya, agar bertumbuh menjadi anak yang berakhlak mulia dan berkualitas secara jasmaniah, kualitas psikologi, kualitas makhluk social, kualitas kemandirian dan kualitas iman.

Pendidikan Anak Usia Dini adalah suatu upaya yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam (6) tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut (Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 bab1 pasal 1 butir 14) dan pada pasal 28 dikatakan bahwa Pendidikan Usia Dini dilaksanakan dalam 3 (Tiga) jalur yaitu Pendidikan Formal dalam bentuk Taman Kanak-kanak (TKK) atau dalam bentuk yang sederajat. Jalur Pendidikan Nonformal dalam bentuk Kelompok Bermain (KB) Taman Penitipan Anak (TPA) Satuan Pendidikan Sejenis (SPS) dan bentuk lain yang sederajat dan jalur Informal yakni pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan dalan lingkungan keluarga.

 Para ahli perkembangan otak anak mengatakan bahwa anak pada usia 0-4 tahun perkembangan otaknya sudah mencapai 50% dan akan mencapai kesempurnaan (100%) pada usia 18 tahun (Depdiknas 2002). Himbauan untuk memberikan perhatian bagi anak usi dini juga merupakan keputusan dunia, dimana salah satu point Deklarasi Dakkar Tahun 2002 tentang pendidikan untuk semua berbunyi “ Memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak usia dini, terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung “.

Hasil identifikasi UNESCO memberikan empat (4) alasan tentang pentingya PAUD yakni :

 1) Alasan Pendidikan : PAUD merupakan fondasi awal dalam meningkatkan kemampuan anak untuk menyelesaikan pendidikan yang lebih tinggi, menrunkan angka mengulang kelas dan angka putus sekolah;

 2) Alasan Ekonomi : PAUD merupakan investasi  yang menguntungkan bagi pribadi anak, keluarga maupun masyarakat;

3) Alasan Sosial : PAUD merupakan salah satu upaya untuk menghentikan roda kemiskinan;

4) Alasan Hak/Hukum : PAUD merupakan hak setiap anak ( sebagai Warga Negara) untuk memperoleh pendidikan yang dijamin oleh Negara.

Dengan demikian, maka anak-anak usia dini pada kisaran usia 0 – 6 tahun (Golden Age) perlu diberikan perawatan dan pendidikan melalui PAUD. PAUD merupakan pendidikan yang sangat mendasar dan strategis untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Melalui PAUD, anak-anak usia 0-6 tahun memperoleh perawatan dan pendidikan dengan pemberian gizi yang seimbang, sentuhan, stimulasi dan atau rangsangan yang bermakna yang mengarah pada pencapaian kesempurnaan perkembangan otaknya. Di PAUD Formal (TKK,RA dan sejenisnya) segala sesuatu ada aturan yang sangat mengikat dan harus ditaati. Sedangkan dilain pihak daya tampungnya terbatas, kemudian penyelenggaraanya difokuskan pada peningkatan kemampuan akademik, baik dalam hal menghafal, maupun kemampuan membaca, menulis dan berhitung dengan memandang perkembangan kemampuan semua anak adalah sama.

Bagaimanakah dengan anak-anak usia dini di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang belum tertampung di PAUD Formal, dengan Nota bene tidak semuanya berasal dari keluarga mampu dan bertempat tinggal di kota? Siapa dan bagaimana mengatasi masalah tersebut?  PAUD nonformal Jawabanya. Kehadiran PAUD nonformal untuk mengatasi persoalan  yang dihadapi PAUD formal, antara lain seperti : Keterbatasan daya tampung, Keterbatasan alat pendidikan Edukatif (APE), jangkauan tempat tinggal, keadaan ekonomi keluarga dan penyelenggaraanya yang belum mengacu betul dengan tahap-tahap perkembangan anak, maka pada tahun 2001 Povinsi Nusa Tenggara Timur menyelenggarakan PAUD Nonformal. Saat itu aktivitas kegiatan dikelompok bermain, masih sebatas bernyanyi, bertepuk tangan, bercerita dan menggambar. Dengan berjalanya waktu, maka pada tahun 2004 penyelenggaraan PAUD Nonformal  ditingkat pusat mulai menggunakan pendekatan Beyond Centers and circle Time (BCCT)  atau pendekatan Sentra dan Lingkaran. Pendekatan BCCT ini dilaksanakan untuk memperbaiki penyelenggaran PAUD yang masih banyak  terjadi salah kaprah dan metode ini diterapkan di provinsi Nusa Tenggara Timur pada tahun 2005.

Pendekatan BCCT adalah suatu pendekatan pembelajaran yang menempatkan anak sebagai pusat pembelajar, artinya proses pembelajarannya berpusat di sentra main dan saat anak dalam lingkaran dengan menggunakan 4 (empat) jenis pijakan (scaffolding) untuk mendukung perkembangan anak yaitu :

1) Pijakan lingkungan main, pada pijakan ini sebelum anak datang, pendidik menyiapkan/menata alat dan bahan main sesuai kelompok usia anak yang dibimbingnya. Alat dan bahan main yang akan digunakan disesuaikan dengan rencana dan jadwal kegiatan yang telah disusun;

2)Pijakan sebelum main, pada pijakan ini pendidik dan anak duduk melingkar, pendidik memberi salam dan menanyakan kabar anak – anak, mengabsen dan meminta anak secara bergilir untuk memimpin doa. Selanjutnya pendidik menyampaikan tema hari itu dan dikaitkan dengan kehidupan anak, pendidik membacakan cerita yang ada kaitannya dengan tema menanyakan isi cerita tersebut kepada anak kemudian mengaitkan isi cerita dengan kegiatan main yang dilakukan anak dan mengenalkan anak semua tempat dan alat main yang sudah disiapkan.

Langkah selanjutnya pendidik menyampaikan aturan main (digali dari anak), mempersilahkan anak memilih teman main dan mainan, cara menggunakan alat – alat tersebut, kapan memulai dan kapan mengakhiri serta merapikan kembali alat main yang sudah digunakan. Setelah itu pendidik mempersilahkan anak bermain.

3) Pijakan selama main, pada pijakan ini pendidik berkeliling di antara anak – anak yang sedang bermain, memberi contoh bagi yang belum bisa menggunakan alat main, memberikan dukungan dengan pertanyaan positif yang ada kaitannya dengan pekerjaan yang dilakukan anak, memberi bantuan jika dibutuhkan, mencatat apa yang dilakukan anak baik jenis main dan tahapan perkembangannya, mengumpulkan hasil kerja anak dengan terlebih dahulu mencatat nama dan tanggal. Bila waktu tinggal 5 menit pendidik memberitahukan kepada anak untuk bersiap – siap menyelesaikan kegiatannya.

4) Pijakan setelah main , pada pijakan ini pendidik memberitahukan anak saatnya membereskan alat dan bahan yang sudah digunakan dengan melibatkan anak. Alat dan bahan diatur sesuai dengan jenis dan tempatnya. Setelah itu anak kembali duduk dalam lingkaran. Setelah itu pendidik menanyakan kepada setiap anak kegiatan main yang dilakukan (recalling) guna melatih daya ingat dan melatih anak mengemukakan gagasan dan pengalaman mainnya (memperluas perbendaharaan kata anak).

Pertanyaan selanjutnya kapan anak mulai belajar membaca, menulis dan berhitung? Di PAUD nonformal, kecerdasan jamak anak dikembangkan melalui kegiatan bermain. Anak belajar membaca, menulis dan berhitung melalui kegiatan main yang dikembangkan di setiap sentra. Sentra – sentra yang dimaksud meliputi :

1) Sentra Ibadah, disentra ini kecerdasan spiritual anak dikembangkan melalui kemampuan mengenal dan mencintai Tuhan, dapat dirangsang/disentuh secara bertahap melalui penanaman nilai – nilai moral dan agama.

 2)Sentra Persiapan, disentra ini kecerdasan bahasa, matematika anak dikembangkan melalui berbicara, mendengar, membaca, menulis, berdiskusi dan bercerita. Sedangkan kecerdasan matematika dirangsang melalui kegiatan menghitung, membedakan bentuk, menganalisis data dan bermain dengan benda – benda.

 3) Sentra Balok, disentra ini kemampuan visual – spasial (ruang pandang) anak dirangsang melalui bermain balok (mengenal bentuk – bentuk geometri), puzzle, menggambar, melukis, nonton film maupun bermain dengan daya khayal (imajinasi).

 4) Sentra Main Peran, disentra ini kecerdasan interpersonal anak dirangsang melalui main bersama, main bekerjasama, main peran, memecahkan masalah serta menyelesaikan konflik.

 5) Sentra Seni Dan Kreativitas, disentra ini kecerdasan musical anak dirangsang melalui irama, nada, birama, berbagai bunyi dan bertepuk tangan.

6) Sentra Olah Tubuh, disentra ini kecerdasan anak dirangsang melalui gerakan, tarian dan olahraga.

Sehubungan dengan itu pendidik harus menyediakan lingkungan main yang menarik, menyenangkan dan mendukung proses belajar anak. Anak akan mudah memahami materi ajar jika ia berada dalam lingkungan belajar yang menyenangkan karena hal itu mendukung, merangsang kreativitas dan inovasi anak. Kreativitas dan inovasi tercermin melalui kegiatan yang membuat tertarik, fokus, serius dan terkosentrasi. Suasana yang menyenangkan mempermudah anak untuk bereksplorasi dan bereksperimen dengan benda – benda yang ada di sekitarnya dan akhirnya menemukan pengetahuan dari benda – benda yang dimainkannya.

 Selain itu kegiatan pembelajaran dilaksanakan dengan berorientasi pada kebutuhan anak. Dengan catatan :Muatan kesempatan main selalu berbeda dan bervariasi menuju ketuntasan belajar pada setiap sentra dan disesuaikan dengan tahapan perkembangan anak. PAUD nonformal diselenggarakan secara fleksibel dan tidak mengejar target kurikulum. Hal ini demaksudkan untuk mengembangkan potensi anak dengan membelajarkannya secara bertahap, berkesinambungan dan tuntas dengan sentuhan, rangsangan dan stimulasi yang bermakna bagi pertumbuhan dan perkembangannya.

Penyelenggaraan PAUD nonformal di NTT sudah menggunakan pendekatan BCCT namun belum merata di seluruh kota/kabupaten, karena provinsi NTT merupakan daerah kepulauan dengan topografi yang bergunung dan berbukit, jarak antara daerah yang satu dengan daerah yang lain menggunakan waktu yang relatif cukup lama dan melelahkan, ditambah biaya yang cukup mahal. Agar PAUD nonformal dengan pendekatan BCCT ini dapat diterapkan sampai kepelosok – pelosok dan masyarakat luas dapat memahami PAUD nonformal lebih jelas tanpa harus mengeluarkan biaya yang banyak, maka alternatif kemungkinan yang dapat dilakukan adalah :

1) Kegiatan Diklat, sosialisasi program PAUD dilaksanakan perwilayah dengan mendatangkan pakar di bidang tersebut dan melibatkan berbagai unsur dari setiap sektor pemerintah dan masyarakat dalam jumlah cukup memadai sebagai peserta

2) Diupayakan supaya PAUD nonformal juga memiliki komite

3) Iklan tentang pentingnya pendidikan bagi anak usia dini melalui PAUD nonformal disiarkan secara kontinue dan berkelanjutan (berseri) melalui RRI dan atau radio daerah dengan menggunakan bahasa daerah setempat

4) Membuka jaringan kerjasama antara Subdin PLS dengan UPTD SKB/PKB. Subdin bekerjasama dengan penilik, TLD, Lurah dan tokoh agama dann masyarakat setempat dalam perekrutan anak didik dan tutor guna pembentukan kelompok dan menyediakan Alat Permainan Edukatif (APE) dalam dan luar ruangan.

 UPTD SKB sesuai dengan tupoksinya melaksanakan percontohan dan pengendalian mutu terhadap kelompok yang telah dibentuk dengan memperhatikan kuantitas dan kualitas pendidik yang mengikuti tuntutan kebutuhan PAUD nonformal, memperhatikan silabus, rencana pembelajaran, dan lain – lain yang menunjang penyelenggaraan PAUD nonformal, sedangkan UPTD PKB sesuai dengan tupoksinya mengembangkan model – model PAUD dan mengujicobakan di kelompok – kelompok PAUD nonformal, melaksanakan diktat untuk peningkatan kompetensi dan profesionalisme pendidik dan penyelenggara/pengelola serta memberikan bimbingan teknis secara kontinue dan berkelanjutan guna memberdayakan secara optimal tenaga pendidik dan kependidikan PAUD, sehingga memiliki kemampuan dan kreativitas yang dapat merangsang pertumbuhan serta perkembangan otak anak kearah kesempurnaan.

Berdasarkan keunikannya stimulasi dan sentuhan yang dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini pada PAUD nonformal dibagi dalam 3 (tiga) program yakni : 1) Program kelompok bermain, usia 3 – 6 tahun; 2) Program Penitipan Anak, usia anak 0 – 6 tahun; 3) satuan PAUD sejenis disesuaikan dengan kebutuhan, misalnya integrasi Posyandu, usia anak 0 – 5 tahun dsbnya.

Paud nonformal seperti Kelompok bermain, Taman Penitipan Anak (TPA) dan SPS seperti Kelompok bermain integrasi sekolah minggu, kelompok bermain integrasi posyandu dan sebagainya dapat dibentuk dan diselenggarakan oleh : 

 1) Organisasi Pemerintah (UPTD PKB/BPKB, SKB, Perkantoran, unit – unit pemerintah/kantor dan perangkat desa).

2) Organisasi masyarakat/Yayasan/Organisasi keagamaan/organisasi kewanitaan (NU, Muhamadiyah, Aisyiah, PKBM, lembaga kursus, PKK, Dharma Wanita, Dharma Pertiwi dsbnya)

3)   Organisasi usaha (Perusahaan, supermarket dsbnya);

4)  Kerjasama luar negeri (Kedutaan, Pusat Budaya, Konsulat Jenderal dsbnya) (Depdiknas, 2004). Demikian juga tempat pelaksanaan kegiatan pembelajaran dapat dilaksanakan di ruangan instansi pemerintah, rumah penduduk dan sebagainya.     

Program PAUD nonformal dilaksanakan sesuai dengan tahun pelajaran. Anak – anak yang telah mencapai usia sekolah dilepas oleh lembaga penyelenggara melalui acara pelepasan dan diberikan sertifikat sebagai bukti telah memperoleh layanan pendidikan. Sertifikat tersebut digunakan untuk melanjutkan atau mendaftar pada pendidikan sekanjutnya (Sekolah Dasar).

Di Provinsi Nusa Tenggara Timur anak usia 0 – 6 tahun berjumlah 649.647 (data Depdkbud NTT, Tahun 2007)orang. Dari jumlah tersebut 12. 076 anak telah memperoleh layanan pendidikan melalui PAUD nonformal dengan rincian : 1) Kelompok Bermain (KB) 10. 712 anak; 2) Taman Penitipan Anak (TPA) 100 anak; dan 3) Satuan PAUD Sejenis (SPS). 1.264 anak (data PDE UPTD PKB Dinas P dan K Provinsi NTT tahun 2007). Anak – anak tersebut dilayani oleh 326 lembaga yang terdiri Kelompok Bermain 247 kelompok, TPA sebanyak 2 kelompok, dan SPS sebanyak 77 Kelompok. Data diatas menunjukan bahwa 637.571 anak usia dini belum mendapat layanan pendidikan, dilain sisi setiap hari ada bayi yang lahir.

Menjawab permasalahan ini maka perlu dibentuk PAUD nonformal sampai ke pelosok – pelosok sesuai kebutuhan, guna memfasilitasi dan memediasi layanan pendidikan bagi usia dini. Demikian pula tenaga pendidik/tutor direkrut dari masyarakat setempat dengan persyaratan antara lain : tamat SLTA, minimum berusia 18 tahun, mencintai dunia anak, bersedia mendampingi anak serta memahami tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini. Pendidik/tutor dituntut untuk memiliki kompetensi : 1). Kompetensi Andragogi/Paedagogi, antara lain : Menguasai ilmu keguruan, menguasai kurikulum, menguasai didaktik metodik, menguasai pengelolaan kelas, mampu melaksanakan monitoring dan evaluasi terhadap peserta didik, mampu mengembangkan dan mengaktualisasi diri; 2) Kompetensi kepribadian, antara lain : Beriman dan bertaqwa, berwawasan Bhineka Tunggal Ika, berwibawa, berdisiplin, berdedikasi, bersosialisasi dengan masyarakat, mencintai dan peduli terhadap pendidikan; 3) Kompetensi Profesionalisme, antara lain : memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme, memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan keprofesionalan, memiliki kualifikasi Akademik dan latar belakang pendidikan sesuai bidang tugas, memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai bidang tugas; dan 4) Kompetensi social, antara lain : mampu berkomunikasi dan berintegrasi secara efektif dengan peserta didik, mampu berkomunikasi dan berintegrasi secara efektif dengan orang tua/wali peserta didik, mampu berkomunikasi dan berintegrasi secara efektif dengan masyarakat.

PAUD nonformal merupakan wadah pelejitan kompetensi jamak anak usia dini, seluruh kompetensi anak usia dini dikembangkan melalui bermain. Bermain dengan aneka kegiatan main, mampu menstimulisasi, merangsang dan mengembangkan secara bertahap seluruh kompetensi dan kecakapan hidup anak  yang mengarah pada kemandirian, kedisiplinan dan kemampuan bersosialisasi serta memiliki keterampilan dasar yang berguna bagi anak dikemudian hari  sehingga terwujudlah anak Indonesia yang sehat, cerdas, ceria dan berakhlak mulia. Anak adalah generasi penerus dan harta paling berharga yang patut dijaga.

 

Oleh : Janres Johanes Bulan, SE
Pamong Belajar BP Paud dan Dikmas Provinsi NTT

Statistik Pengunjung

4.png2.png2.png1.png8.png
Today147
Yesterday311
This week1419
This month6512
Total42218

Who Is Online

1
Online